Sabtu, 25 Mei 2013

Renungan dari sebuah meja


Bismillah

Terkadang manusia seringkali tidak puas dengan keadaan dirinya sendiri, seringkali merasa iri dengan yang dimiliki oleh orang lain. Begitupun aku. Iri? Dilihat dari sisi positifnya: Alhamdulillah, aku masih tergolong manusia (hoho). Dilihat dari sisi negatifnya: haduh banyak sekali. Tentu menjadi hal yang negatif ketika kita selalu merasa kekurangan dan rasa kekurangan itu tidaklah menimbulkan usaha yang lebih namun malah menimbulkan keluh dan kesah.

Setiap dari kita sudah mendapat 'jatah' hidup masing-masing, dan timbangan Allah adalah timbangan yang paling adil, tidak seperti timbangan yang dibuat oleh manusia, atau tokoh sekelas Harry Potter sekalipun.


(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar.

 

Kali ini, karena sedang merasa bosan menjadi seorang manusia, jadilah aku berfikir ingin menjadi sebuah meja (beginilah manusia mengalihkan hidupnya, mencari makna dari setiap peristiwa, dan setiap benda, mungkin malaikatpun tidak pernah merasakan betapa nikmat perenunganseperti ini,  

karena mereka terlalu sempurna).


Memiliki empat kaki tak lantas ia bisa berdiri tegak menopang mangkuk di atasnya. Terkadang ada yang tidak seimbang antara kanan dan kiri, antara depan dan belakang. Ketimpangan itu tak lantas dihujat oleh pemakainya, namun segera dicarikan pengganjal sebagai solusinya.

Meja oh meja. Ingin rasanya aku bisa sepertimu, memberikan kemanfaatan tiada henti, ketika kau ada kekurangan, segera ada yang menimpali dan membantu mencarikan solusi.

Meja, bermacam rupa, meragam warna dan jenisnya, tapi fungsinya tetap sama: menopang. Bahkan hanya itu yang kau tau, menopang dan menopang, terus memberi kemanfaatan.

Meja, tak harus kau memiliki empat kaki, terkadang bentukmu tak seperti rupa biasanya, aneh, artistik, daaaan yaaa emmm, nyentrik, tapi keanehan itu tak lantas membuat fungsimu berubah, terkadang kau hanya berkaki satu, itu aneh, tapi kau tetap meja, yang terus memberi kemanfaatan.

Kursi adalah pasanganmu, orang jadi lebih nyaman bersamamu ketika kau bersama si kursi. Orang senang menghampiri kalian. Betapa senangnya menjadi kalian, selalu ada saja yang datang membutuhkan bantuan kalian, kalianpun selalu menawarkan pelayanan terbaik hingga orang merasa nyaman.

hmmm, kalian beruntung ya.

Sebentar, kalian begitu banyak memberi kemanfaatan, dan aku iri pada kalian? Siapa aku ini? Manusia! Hei! Apa aku lupa, bahwa yang membuat kalian menjadi sedemikian bermanfaat adalah manusia?! Aku sebagai manusia telah iri pada kalian?! Betapa tidak bersyukur.

Sungguh hidup ini sangat sempit dan penuh dengan keluh, ketika dunia menjauh, tapi sepertinya kita lupa, dunia boleh menjauh, serasa hilang dan sia-sia semua peluh, seolah tak ada yang peduli dengan kita, kita lupa bahwa dunia masih punya banyak sisa. Kita mungkin kehilangan sesuatu, teman, kepercayaan, semangat, namun apapun itu, sisanya masih terlalu banyak, keluarga kita sehat, itu sebuah kabar gembira! pakaian kita masih bersih dan bagus, itu nikmat luar biasa! Di depan kita masih makanan masih tersedia, tak ada ruang untuk kita tak bersyukur.

Aku tak ingin lagi menjadi meja, ataupun kursi, aku kehilangan temanku.... tapi mungkin aku masih bisa membujuknya untuk menjadi temanku lagi, menjadi meja mungkin tak bisa memilih kursi sebagai temannya, terkadang ia diletakkan sendiri, ia tak bisa mencari, dan aku? masih bisa mencari banyak teman baru, ah! aku akan memubujuk temanku untuk bersahabat kembali denganku.

Aku tak ingin lagi menjadi meja, ataupun kursi, aku kehilangan semangatku... tapi mungkin ada yang salah dengan pola hidupku, kalau aku jadi meja, aku harus menunggu lama untuk bisa tegak berdiri hingga ada yang benar-benar peduli memberiku solusi, tapi aku manusia, aku harus bisa mendatangkan solusi untuk diriku sendiri, semangatku hilang, mungkin karena aku jauh dari Tuhan! Padahal hidupku adalah permainan semata, karna kehidupan yang sebenarnya
bukan di dunia, lalu pantaskah dunia menjadi sebab hilangnya semangatku? Ah! Tuhan, izinkan aku mendekat lagi pada Mu.

Aku tak ingin lagi menjadi meja dan kursi, aku kehilangan kepercayaan...tapi mungkin aku masih bisa memperbaikinya! Allah Maha membolak-balikkan hati manusia, lalu siapa yang bisa menjamin usahaku memperbaiki kepercayaan orang padaku akan sia-sia? Ah! pesimisme, buang saja. Aku bukan meja, aku bisa menegakkan sendiri punggungku dan melecut kembali ikhlasku, dan akan aku dapatkan kembali kepercayaan semua orang kepadaku.

Karna aku ditakdirkan sebagai manusia! pilihanku kini adalah hidup mulia! bukan hidup bagai meja! Terimakasih banyak meja :)

sumber :
http://azrasyamstone.blogspot.com/2012/07/mencoba-menjadi-meja.html

Rabu, 06 Maret 2013

NGIMPIIIII........?



Pernah g mimpi punya motor. Dengan motor bisa dapet gebetan cakep, primadona sekolah yang diperebutkan ribuah cowok. Trus apa yang kamu lakuin buat ngedapetinnya. Nangis di depan ortu sambil ngancam bunuh diri, ato ngambek g makan sebulan. Walaupun dengan anceman seperti itu ortu masih aja keukeh g mau bliin motor, lalu dilaksanakanlah ancaman tersebut dengan sedikit mikir-mikir. Ancaman pertama terlalu ekstrime lah, nanti kalau aku beneran mati terus cewek incaranku digebet cowok lain dong, rencana pertama dihapus. Rencana kedua, g makan selama sebulan, masuk akal lah, paling baru 3 hari ortu dan bertekuk lutut. Akhirnya rencana kedua dipilih dan segera eksekusi. Tiga hari berlalu tapi ortu masih keukeh. Apa kita akan menyerah, gengsi dong pastinya dan akhirnya terus berlanjut. Hari keempat badan dah mulai lemes nih, berat badan mulai turun 3 kilo, ortu akhirnya melunak dan bilang “nanti ibu belikan 2nd merk astrea grand ya. Dengan sisa tenaga kita teriak bilang “ g mau, aku maunya Jupiter MX. Hari kelima., sebenernya udah g tahan banget, tapi demi sebuah motor Jupiter MX, demi boncengin gebetan dan demiiii……..iikian juga, maka rencana tetap lanjut. Akhirnya ortu bilang “udahdeh bapak nyerah, besok kita ke dealer, tapi kredit g pa2 yo le”. Dengan Tenaga yang tinggal 10% akhirnya loncat-loncat dan bilang “hore-hore”.
Hal diatas menunjukkan bagaimana kuatnya seseorang jika punya mimpi walaupun sebenernya contohnya jelek sih (tapi biasanya yg jelek gini banyak kita lakukan) dan yang pasti cerita diatas bukan aku, karena sampai saat ini impianku punya Jupiter MX belum kesampaian..hahaha. bagaimana seorang anak tersebut dengan usaha yang keras dan keinginan kuat ingin dibelikan motor. Kalau dipikir nalar, g makan 3 hari gimana jadinya kita. Tapi demi tercapainya mimpi semua akan dilakukan. Lalu bagaimana dengan mimpi-mimpi yang lain. Itulah kekuatan mimpi.
Sebuah cerita tentang kekuatan mimpi ketika tahun 2006 melihat tayangan Grans Prix Marcingband (GPMB) di senayan yang diputar di computer sekolah. Saat itu saya menuliskan mimpi dihati “saya harus menjadi pemain yang berlaga di arena itu”. Waktu itu saya tidak tahu bagaimana cara untuk mewujudkannya, tapi aku berkeyakinan, aku pasti bisa. Berganti tahun saya tidak pernah melupakan mimpi itu, bahkan tiap tahun saya selalu update informasi tentang GPMB, baru akhirnya pada tahun 2009 saya menemukan sebuah pamflet dikampus “menerima pendaftaran player untuk persiapan GPMB” setelah itu saya langsung mendaftar mengikuti seleksi dan akhirnya lolos di posisi trumpet 1.
Perjuangan belum selesai, masih ada jalan 3 bulan menuju GPMB, 3 bulan dengan jadwal latihan padat dan menguras banyak energy. Perjalanan tempat tinggal dan tempat latihan yang berjarak 10 km ditempuh dengan menggunakan sepeda 3x seminggu, latihan dimulai jam 4 sore dan berakhir jam 10 malam. Bismillah saya jalani.
Latihan berjalan 1 bulan dan saya sudah dapat mengikuti porsi latihan. Dalam perjalanan pulang dari tempat latihan ada sebuah mobil yang menyerempet sepedaku, akupun terjatuh dan mengerang kesakitan. Tidak ada yang menolong karena suasana jalan sepi dan sudah malam. Akhirnya ada bapak-bapak yang menolong dan membawaku ke PMI lalu mengantarku pulang. Keesokan harinya barulah aku bersama kakak sepupuku ke rumah sakit untuk periksa. Ternyata sendi kaki kiriku geser dan aku harus istirahat total 1 bulan. Aku langsung berfikir, ketinggalan latihan sebulan bukan hal yang musah untuk mengejarnya. Lalu aku berpindah ke tukang pijit spesialis tulang. Dengan sekali sentuhan yang sangat sakit menurutku, sampai aku teriak-teriak bapaknya bilang, ini dah baikan, jangan banyak gerak biar g geser lagi. Gelisahku belum terpecahkan. Kapan aku bisa ikut latihan lagi……………
Dua minggu berselang aku dapat kabar dari tim marcingband bahwa semua personel harus datang untuk persiapan karantina. Hatiku bergejolak, lanjut atau tidak. Kesempatan sudah di depan mata, haruskah aku berhenti. Dengan keadaan kaki yang belum pulih 100% dan tentangan dari keluargaku agar aku meninggalkan dunia marcing band aku memutuskan bahwa aku harus lanjut. Aku ketinggalan materi selama 3 minggu. Betapa kagetnya aku ketika masuk latihan. Aku ketinggalan banyak sekali materi, pelatihku bilang aku harus belajar lebih dari yang lain, manfaatkan waktu istirahat untuk tetap berlatih, kembalikan kemampuan fisik. Berat ini kurasakan. Seminggu kulalui dengan penuh tantangan. Mengurangi waktu istirahat, dan menggunakan 1 jam waktu tidur untuk menghafal not serta posisi display, ternyata perjuanganku belum maksimal, aku masih banyak kesalahan bahkan pernah bertabrakan dengan rekan saat display karena aku salah posisi dan akhirnya aku disuruh push up 25x.
Pertandingan tinggal 1 bulan lagi. Management membuat rencana karantina full selama 1 bulan, tidak ada kegiatan lain selain karantina. Kuliahpun harus izin. Aku tipe anak kuliah yang bergaya SMA, selalu masuk dan tidak pernah bolos, sehingga kebijakan sebulan g masuk kuliah menjadi pilihan yang sulit bagiku. Bukan hanya aku, orangtuaku juga semakin menghujat kegiatan marcingband-ku. Dalam benakku aku sudah sangat jauh melangkah, dan aku harus menyelesaikannya. Bismillah aku lanjut, materi kuliah semua aku minta untuk dicatatkan temanku karena untungnya aku punya teman special dikelas. Perizinan diurus semua dan aku karantina selama sebulan, 3 minggu di jogja, 1 minggu di Jakarta.
Perjalanan karantina membutuhkan fisik yang sangat prima. Latihan mulai jam 5 pagi sampai 9 malam sungguh menguras tenaga dan pikiran. 3 miggu berlalu dan kami akan melanjutkan karantina persiapan lomba di Jakarta. Sebelum keberangkatan ke Jakarta dilaksanakan konser pamit serta upacara pelepasan rombongan. Terharu sekali, dan teringat segala perjuanganku sejak pertama mendaftar. Selesai perpisahan pelatih menghampiriku dan bilang akhirnya kamu bisa berangkat.
Keberangkatan ke Jakarta bukanlah final, tapi awal dari dipukulnya gendering perang. Tim Marcingband dari seluruh Indonesia datang untuk menjadi the 1st. latihan selama 3 hari full fisik. Berlari, display, memainkan music, push up dll. Latihan dilakukan di lokasi camp. Pada hari ke-4 dimulailah latihan di medan pertempuran, di tenis indoor senayan. Ada waktu 2 jam untuk sesi latihan di dalam ruangan dan selebihnya di plataran parkir. Saat memasuki ruangan senayan sempat terpukau dan kagum, tapi langsung kukembalikan konsentrasiku medan perang. Latihan berjalan lancar dan waktu 2 jam aku lalui dengan perasaan suka cita.
Hari perlombaan telah tiba. Hari itu sabtu 26 desember 2009 dilaksanakan babak penyisihan. Grupku menempati urutan tampil ke-4. Pelatih mengumpulkan pemain sebelum berangkat menuju senayan. Pelatih berpesan, jangan pernah membuka korden bus, jangan lihat lawan, konsentrasi kekuatanmu, disana akan ada perang mental. Yang juara adalah yang punya mental juara. Kamipun segera meluncur ke lokasi. Di senayan sudah penush dengan kendaraan, baik itu penonton ataupun bus-bus yang mengantar para tim peserta lomba. Persis seperti yang dibicarakan pelatih. Terjadi perang mental yang hebat. Di area parker para tim-tim besar menunjukkan kekuatam mereka dengan latihan music yang membahana serta jumlah personel yang lebih dari 120an personel sedangkan kondisi timku hanya dihuni 70 personel..Luar biasa..memasuki lorong tunggu antrian masuk lomba juga terjadi perang mental, saat kami harus berhadapan dengan tim lawan. Mereka menunjukkan kostum dan property display yang memukau. Berbagai aksesoris dan hiasan semakin membuat lawan-lawannya gentar.
Kini tiba saatnya tim kami dipanggil untuk memasuki arena. Satu per satu personel kami masuk dan tiba giliranku, kulihat lantai senayan yang berwarna kuning emas megah sekali. Kudengar riuh sekali suara penonton. Kumantapkan hati “15 menit aku berada disini akan ku kenang selamanya” Bismillah. 4 lagu yang kami bawakan berirama sangat lantang. Walaupun dengan 15 peniup terompet berhasil membuat seluruh ruangan menggema dan terhanyut lagu kami. 15 menit yang sangat bersejarah dalam hidupku berlalu dan kami keluar dari ruangan dengan berbagai macam perasaan. Ada yang langsung menangis, bahkan ada yang sampai histeris. Sungguh 15 menit yang sangat bermakna.
Dalam perlombaan itu walaupun timku tidak masuk final, tapi timku mendapat anugrah “The most powerful trumpet. Kami pulang dengan kebanggan dan perasaan hati masing-masing. Dan dalam benakku, satu mimpiku tercapai. Mimpi-mimpiku selanjutnya akan segera kuraih. Bismillah, Allah mendengar doa kita, dan alam sekitar mengamini do’a kita. Teruslah bermimpi, karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.