Pernah g mimpi punya motor. Dengan motor bisa dapet gebetan
cakep, primadona sekolah yang diperebutkan ribuah cowok. Trus apa yang kamu
lakuin buat ngedapetinnya. Nangis di depan ortu sambil ngancam bunuh diri, ato
ngambek g makan sebulan. Walaupun dengan anceman seperti itu ortu masih aja
keukeh g mau bliin motor, lalu dilaksanakanlah ancaman tersebut dengan sedikit
mikir-mikir. Ancaman pertama terlalu ekstrime lah, nanti kalau aku beneran mati
terus cewek incaranku digebet cowok lain dong, rencana pertama dihapus. Rencana
kedua, g makan selama sebulan, masuk akal lah, paling baru 3 hari ortu dan
bertekuk lutut. Akhirnya rencana kedua dipilih dan segera eksekusi. Tiga hari
berlalu tapi ortu masih keukeh. Apa kita akan menyerah, gengsi dong pastinya
dan akhirnya terus berlanjut. Hari keempat badan dah mulai lemes nih, berat
badan mulai turun 3 kilo, ortu akhirnya melunak dan bilang “nanti ibu belikan 2nd
merk astrea grand ya. Dengan sisa tenaga kita teriak bilang “ g mau, aku
maunya Jupiter MX. Hari kelima., sebenernya udah g tahan banget, tapi demi
sebuah motor Jupiter MX, demi boncengin gebetan dan demiiii……..iikian juga,
maka rencana tetap lanjut. Akhirnya ortu bilang “udahdeh bapak nyerah, besok
kita ke dealer, tapi kredit g pa2 yo le”. Dengan Tenaga yang tinggal 10%
akhirnya loncat-loncat dan bilang “hore-hore”.
Hal diatas menunjukkan bagaimana kuatnya seseorang jika punya
mimpi walaupun sebenernya contohnya jelek sih (tapi biasanya yg jelek gini
banyak kita lakukan) dan yang pasti cerita diatas bukan aku, karena sampai saat
ini impianku punya Jupiter MX belum kesampaian..hahaha. bagaimana seorang anak
tersebut dengan usaha yang keras dan keinginan kuat ingin dibelikan motor. Kalau
dipikir nalar, g makan 3 hari gimana jadinya kita. Tapi demi tercapainya mimpi
semua akan dilakukan. Lalu bagaimana dengan mimpi-mimpi yang lain. Itulah
kekuatan mimpi.
Sebuah cerita tentang kekuatan mimpi ketika tahun 2006
melihat tayangan Grans Prix Marcingband (GPMB) di senayan yang diputar di
computer sekolah. Saat itu saya menuliskan mimpi dihati “saya harus menjadi
pemain yang berlaga di arena itu”. Waktu itu saya tidak tahu bagaimana cara
untuk mewujudkannya, tapi aku berkeyakinan, aku pasti bisa. Berganti tahun saya
tidak pernah melupakan mimpi itu, bahkan tiap tahun saya selalu update
informasi tentang GPMB, baru akhirnya pada tahun 2009 saya menemukan sebuah
pamflet dikampus “menerima pendaftaran player untuk persiapan GPMB” setelah itu
saya langsung mendaftar mengikuti seleksi dan akhirnya lolos di posisi trumpet
1.
Perjuangan belum selesai, masih ada jalan 3 bulan menuju
GPMB, 3 bulan dengan jadwal latihan padat dan menguras banyak energy.
Perjalanan tempat tinggal dan tempat latihan yang berjarak 10 km ditempuh
dengan menggunakan sepeda 3x seminggu, latihan dimulai jam 4 sore dan berakhir
jam 10 malam. Bismillah saya jalani.
Latihan berjalan 1 bulan dan saya sudah dapat mengikuti porsi
latihan. Dalam perjalanan pulang dari tempat latihan ada sebuah mobil yang
menyerempet sepedaku, akupun terjatuh dan mengerang kesakitan. Tidak ada yang
menolong karena suasana jalan sepi dan sudah malam. Akhirnya ada bapak-bapak
yang menolong dan membawaku ke PMI lalu mengantarku pulang. Keesokan harinya
barulah aku bersama kakak sepupuku ke rumah sakit untuk periksa. Ternyata sendi
kaki kiriku geser dan aku harus istirahat total 1 bulan. Aku langsung berfikir,
ketinggalan latihan sebulan bukan hal yang musah untuk mengejarnya. Lalu aku
berpindah ke tukang pijit spesialis tulang. Dengan sekali sentuhan yang sangat
sakit menurutku, sampai aku teriak-teriak bapaknya bilang, ini dah baikan,
jangan banyak gerak biar g geser lagi. Gelisahku belum terpecahkan. Kapan aku
bisa ikut latihan lagi……………
Dua minggu berselang aku dapat kabar dari tim marcingband
bahwa semua personel harus datang untuk persiapan karantina. Hatiku bergejolak,
lanjut atau tidak. Kesempatan sudah di depan mata, haruskah aku berhenti.
Dengan keadaan kaki yang belum pulih 100% dan tentangan dari keluargaku agar
aku meninggalkan dunia marcing band aku memutuskan bahwa aku harus lanjut. Aku
ketinggalan materi selama 3 minggu. Betapa kagetnya aku ketika masuk latihan.
Aku ketinggalan banyak sekali materi, pelatihku bilang aku harus belajar lebih
dari yang lain, manfaatkan waktu istirahat untuk tetap berlatih, kembalikan
kemampuan fisik. Berat ini kurasakan. Seminggu kulalui dengan penuh tantangan.
Mengurangi waktu istirahat, dan menggunakan 1 jam waktu tidur untuk menghafal
not serta posisi display, ternyata perjuanganku belum maksimal, aku masih
banyak kesalahan bahkan pernah bertabrakan dengan rekan saat display karena aku
salah posisi dan akhirnya aku disuruh push up 25x.
Pertandingan tinggal 1 bulan lagi. Management membuat rencana
karantina full selama 1 bulan, tidak ada kegiatan lain selain karantina.
Kuliahpun harus izin. Aku tipe anak kuliah yang bergaya SMA, selalu masuk dan
tidak pernah bolos, sehingga kebijakan sebulan g masuk kuliah menjadi pilihan
yang sulit bagiku. Bukan hanya aku, orangtuaku juga semakin menghujat kegiatan
marcingband-ku. Dalam benakku aku sudah sangat jauh melangkah, dan aku harus
menyelesaikannya. Bismillah aku lanjut, materi kuliah semua aku minta untuk
dicatatkan temanku karena untungnya aku punya teman special dikelas. Perizinan
diurus semua dan aku karantina selama sebulan, 3 minggu di jogja, 1 minggu di
Jakarta.
Perjalanan karantina membutuhkan fisik yang sangat prima.
Latihan mulai jam 5 pagi sampai 9 malam sungguh menguras tenaga dan pikiran. 3
miggu berlalu dan kami akan melanjutkan karantina persiapan lomba di Jakarta.
Sebelum keberangkatan ke Jakarta dilaksanakan konser pamit serta upacara
pelepasan rombongan. Terharu sekali, dan teringat segala perjuanganku sejak
pertama mendaftar. Selesai perpisahan pelatih menghampiriku dan bilang akhirnya
kamu bisa berangkat.
Keberangkatan ke Jakarta bukanlah final, tapi awal dari
dipukulnya gendering perang. Tim Marcingband dari seluruh Indonesia datang
untuk menjadi the 1st. latihan selama 3 hari full fisik. Berlari,
display, memainkan music, push up dll. Latihan dilakukan di lokasi camp. Pada
hari ke-4 dimulailah latihan di medan pertempuran, di tenis indoor senayan. Ada
waktu 2 jam untuk sesi latihan di dalam ruangan dan selebihnya di plataran
parkir. Saat memasuki ruangan senayan sempat terpukau dan kagum, tapi langsung
kukembalikan konsentrasiku medan perang. Latihan berjalan lancar dan waktu 2
jam aku lalui dengan perasaan suka cita.
Hari perlombaan telah tiba. Hari itu sabtu 26 desember 2009
dilaksanakan babak penyisihan. Grupku menempati urutan tampil ke-4. Pelatih
mengumpulkan pemain sebelum berangkat menuju senayan. Pelatih berpesan, jangan
pernah membuka korden bus, jangan lihat lawan, konsentrasi kekuatanmu, disana
akan ada perang mental. Yang juara adalah yang punya mental juara. Kamipun
segera meluncur ke lokasi. Di senayan sudah penush dengan kendaraan, baik itu
penonton ataupun bus-bus yang mengantar para tim peserta lomba. Persis seperti
yang dibicarakan pelatih. Terjadi perang mental yang hebat. Di area parker para
tim-tim besar menunjukkan kekuatam mereka dengan latihan music yang membahana
serta jumlah personel yang lebih dari 120an personel sedangkan kondisi timku
hanya dihuni 70 personel..Luar biasa..memasuki lorong tunggu antrian masuk
lomba juga terjadi perang mental, saat kami harus berhadapan dengan tim lawan.
Mereka menunjukkan kostum dan property display yang memukau. Berbagai aksesoris
dan hiasan semakin membuat lawan-lawannya gentar.
Kini tiba saatnya tim kami dipanggil untuk memasuki arena.
Satu per satu personel kami masuk dan tiba giliranku, kulihat lantai senayan
yang berwarna kuning emas megah sekali. Kudengar riuh sekali suara penonton.
Kumantapkan hati “15 menit aku berada disini akan ku kenang selamanya”
Bismillah. 4 lagu yang kami bawakan berirama sangat lantang. Walaupun dengan 15
peniup terompet berhasil membuat seluruh ruangan menggema dan terhanyut lagu
kami. 15 menit yang sangat bersejarah dalam hidupku berlalu dan kami keluar
dari ruangan dengan berbagai macam perasaan. Ada yang langsung menangis, bahkan
ada yang sampai histeris. Sungguh 15 menit yang sangat bermakna.
Dalam perlombaan itu walaupun timku tidak masuk
final, tapi timku mendapat anugrah “The most powerful trumpet. Kami pulang
dengan kebanggan dan perasaan hati masing-masing. Dan dalam benakku, satu
mimpiku tercapai. Mimpi-mimpiku selanjutnya akan segera kuraih. Bismillah,
Allah mendengar doa kita, dan alam sekitar mengamini do’a kita. Teruslah
bermimpi, karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.
